ICBE 2018

Tanah Papua yang merupakan wilayah sebelah Barat Pulau New Guinea adalah Daerah Otonomi Khusus bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (wilayah Timur milik negara merdeka Papua New Guinea). Secara administratif, daerah otonomi khusus ini terbagi ke dalam dua Pemerintahan Provinsi, yaitu Provinsi Papua dengan luasan 319.036 km2 dan Provinsi Papua Barat dengan luasan wilayah 140.376 km2.

Tanah Papua diberkahi kekayaan alam dan keanekaragaman ekosistem yang luar biasa, diantaranya hutan, pantai, terumbu karang, danau dan sungai, serta gletser tropis. Keanekaragaman hayati Tanah Papua adalah setengah dari total jumlah keanekaragaman hayati Indonesia, secara khusus flora dan fauna endemik yang hanya dijumpai di Tanah ini. Berdasarkan informasi sampai saat ini, Tanah Papua dihuni oleh 15.000 s.d. 20.000 spesies tumbuhan (dimana sekitar 55% adalah endemik) termasuk sekitar 2.000 spesies anggrek, burung 602 spesies (52% adalah spesies endemik), mamalia 125 spesies (58% spesies endemik), dan herpetofauna (reptilia dan amfibia) 223 spesies (35% spesies endemik), 25 spesies ikan air tawar dan 1200 spesies ikan laut, serta diperkirakan 150.000 spesies serangga (Alison, 2007; Marshall & Behler, 2013). Tidak hanya itu, Tanah Papua juga kaya akan sumberdaya alam berupa bahan tambang migas dan mineral serta adat istiadatnya. Tercatat ada sekitar 265 bahasa lokal yang melambangkan suku-suku yang ada dengan beragam kearifan lokalnya dan menjadi modal dasar bagi pembangunan ekonomi hijau, biru dan jingga atau ekonomi berkelanjutan berbasis lahan, laut dan kreativitas.

Latar Belakang

Burung Cendrawasih - International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy Manokwari, 2018

Namun, kenyataan menunjukan bahwa Tanah Papua yang begitu kaya, tetapi tingkat kemiskinan termasuk yang tertinggi di Indonesia, Provinsi Papua dan Papua Barat selalu menempati posisi dua terendah dalam pemeringkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Pengembangan ekonomi di Tanah Papua sedang dan terus akan dipacu untuk meningkatkan perekonomian dan membiayai kegiatan pembangunan dengan harapan bahwa lewat kegiatan ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan harapan hidup masyarakat di Tanah Papua. Terbatasnya atau belum berkembangnya sektor jasa dan sektor lainnya, mendorong pemerintah untuk memanfaatkan sumberdaya alam sebagai modal utama pengembangan ekonomi. Ini bisa dilihat kontribusi berbagai sektor pereknomian dalam pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ini, dimana kontribusi terbesar berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam. Dengan demikian, setiap usaha peningkatan perekonomian akan berdampak langsung pada tekanan pemanfaatan sumberdaya alam.

Pembelajaran dari berbagai negara dan daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terencana dengan baik, tidak akan berlangsung lama, serta mengacam kelestarian alam dan manusia, dan hanya memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok tertentu. Fenomena ini bisa dilihat di Tanah Papua (termasuk di Provinsi Papua Barat), walaupun ada kemajuan nyata dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan itu belum sejalan dengan perbaikan kesejahteraan masyarakat dan bahkan telah menimbulkan beberapa kerusakan dan pencemaran lingkungan.

People in Samate Raja Ampat_CIShawn Heinrichs- International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy Manokwari, 2018
G Speciosum - International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy Manokwari, 2018

Menyikapi hal tersebut, secara khusus Pemerintah Provinsi Papua Barat telah mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Konservasi pada 19 Oktober 2015, yang bertujuan agar kegiatan pembangunan harus selalu mempertimbangankan: perlindungan lingkungan demi menjamin kehidupan masyarakat; perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati; pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana dan berkelanjutan; dan pemulihan lingkungan hidup yang telah terdegradasi. Dapat disimpulkan Provinsi Konservasi bertujuan untuk menjamin pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumberdaya alam guna menunjang kehidupan masyarakat, yang tidak lain adalah pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

ICBE Papua Barat 2018

Untuk itu diperlukan usaha bersama dan menyeluruh untuk menentukan berbagai rencana dan tindakan guna mewujudkan Tanah Papua menjadi Aman, Sejahtera dan Bermartabat serta menjamin perlindungan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana; dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat ekowisata dan ekonomi kreatif berbasis keanekaragaman hayati. Sebagai tindak lanjut rekomendasi penting dari hasil pertemuan/konferensi internasional sebelumnya yang dilaksanakan di Jayapura, Provinsi Papua Tahun 2016 (ICBE 2016 – International Conference on Biodiversity, Eco-Tourism and Creative Economy 2016) yang lalu, maka sangatlah penting untuk menyelenggarakan pertemuan yang sama dengan mengemukakan prioritas dan menggali potensi serta keunggulan Provinsi Papua Barat guna disampaikan kepada semua pemangku kepentingan, demi mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua Barat khususnya dan Tanah Papua umumnya. Juga akan berkontribusi bagi kepentingan nasional Indonesia dan secara global bagi kemaslahatan umat manusia.

"Provinsi Konservasi: Solusi Cerdas Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua”