ICBE 2018

Kawasan Konservasi Raja Ampat

Raja Ampat

Kondisi Umum

Kabupaten Raja Ampat merupakan salah satu kabupaten yang relatif baru di Provinsi Papua Barat yang dibentuk melalui UU Nomor 26 Tahun 2002. Dalam rangka memacu kemajuan wilayah Papua pada umumnya, baik dalam peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah, kabupaten ini resmi menjadi daerah otonom pada tanggal 12 April 2003 hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong.
Dasar hukum penetapan perairan Kawasan Konservasi Laut Raja Ampat adalah Peraturan Bupati Raja Ampat No. 66 Tahun 2007 yang ditandatangani tanggal 14 Juni 2007 dan Peraturan Bupati No. 05 Tahun 2009 tanggal 16 April 2009.

Letak Geografis

Kawasan Konservasi ini dibagi menjadi beberapa wilayah yakni :
1. Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Ayau-Asia;
2. Kawasan Konservasi Perairan Selat Dampier;
3. Kawasan Konservasi PerairanTeluk Mayalibit;
4. Taman Pulau Kecil Kofiau;
5. Taman Pulau Kecil Misool
 

Aksesibilitas

Ibukota kabupaten Raja Ampat adalah Waisai yang terletak di Pulau Waigeo. Waisai dapat dijangkau dari Kota Sorong menggunakan transportasi laut, yaitu kapal nelayan yang memakan waktu perjalanan 5 jam atau dengan kapal cepat (speed boat) yang memakan waktu perjalanan 2 jam. Transportasi laut memiliki peranan sangat penting untuk Kabupaten Raja Ampat yang terdiri dari ratusan gugus pulau kecil.
Sistem transportasi di Kabupaten Raja Ampat tidak terlepas dari peran Pelabuhan Sorong sebagai Pelabuhan Utama. Kegiatan pelabuhan berorientasi ke Kota Sorong, baik arus penumpang maupun barang. Selain itu, terdapat juga sebagian kecil ke Ternate dan Ambon. Dari pelabuhan Sorong terdapat pelayaran internasional (khusus untuk angkutan minyak mentah, ikan tuna dan kayu lapis); dan pelayaran nusantara yang meliputi trayek pelayaran nusantara, trayek kapal penumpang, trayek lokal, pelayaran rakyat dan angkutan sungai, danau dan ferry.
Trayek transportasi laut untuk Kabupaten Raja Ampat dengan Sorong berupa : Pelayaran rakyat : Sorong – Waigeo – Batanta – Salawati – Misool, dan angkutan Sungai, Danau dan Ferry : Jalur Sungai Klamono – Sungai Waigeo. Pelayanan transportasi laut di Kabupaten Raja Ampat sangat bergantung pada musim. Pada bulan-bulan tertentu (April – Agustus) kondisi gelombang sangat besar sehingga transportasi laut tidak dapat menjangkau daerah-daerah seperti Kepulauan Ayau, Kofiau atau Misool.

Iklim

Kabupaten Raja Ampat beriklim tropis yang lembab dan panas. Berdasarkan hasil pencatatan Stasiun Cuaca dan Meteorologi Jeffman, suhu udara terendah sebesar 22,40C dan suhu udara tertinggi sebesar 32,50C dengan suhu rata-rata 27,40C. Sementara curah hujan sebesar 2.000 mm/tahun. Variasi perubahan musim kemarau dan musim penghujan tidak begitu jelas seperti daerah Papua pada umumnya. Wilayah Raja Ampat dipengaruhi oleh angin muson; antara bulan Mei-November bertiup angin pasat Tenggara dan antara Desember-April bertiup angin Barat Laut.

Kondisi Perairan

Kondisi hidro-oseanografi wilayah Kabupaten Raja Ampat dipengaruhi oleh dinamika perairan Laut Seram, Laut Halmahera dan Samudera Pasifik. Wilayah ini memiliki pasang surut bertipe campuran condong ke harian ganda (mixed tide, prevailing semi diurnal).
Arus permukaan di wilayah perairan Raja Ampat tergolong relatif kuat terutama di bagian celah atau selat antara dua pulau. Menurut data dari Dishidros, arus tetap yang terdapat disekitar Selat Sele (koordinat 0110 LS dan 13110 BT) sebesar 3,75 m/detik.. Secara umum, pola pergerakan arus di wilayah perairan Raja Ampat pada bulan Agustus mengarah dari Timur menyusuri bagian Utara Pulau Papua menuju Barat Daya (Laut Banda). Sedangkan pada bulan Oktober arus datang dari arah Barat Daya menyusuri Kepulauan Maluku menuju Timur Laut/Samudera Pasifik (Wyrtki, 1961).

Sebagai gugusan pulau-pulau kecil, Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati laut yang melimpah. Gugus pulau kecil ini terletak di wilayah “˜Coral Triangle” yang merupakan “jantung” keanekaragaman terumbu karang di dunia dengan segala biota yang berasosiasi dengannya, seperti jenis ikan-ikan karang, moluska dan krustasea. Kondisi terumbu karang sebanyak 60% dalam keadaan baik dan sangat baik. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh CI (Conservation International) bekerjasama dengan Universitas Cenderawasih dan LIPI dalam kegiatan M-RAP (Marine-Rapid Assessment Program) di Raja Ampat pada tahun 2001, telah teridentifikasi sebanyak 2000 jenis biota pada 45 titik penyelaman, yaitu : 450 jenis karang, 7 jenis diantaranya belum pernah ditemukan di dunia; 950 jenis ikan karang, 4 jenis tergolong baru bagi dunia, yaitu: Eviota(sejenis gobi), Apogon (ikan kardinal-2 jenis), Hemiscyllium (sejenis hiu); dan 600 jenis moluska.
Secara umum, jenis lamun yang terdapat di Papua adalah Enhalus acroides, Halodule sp., Halophila sp., Thalassia hemprichii, Cymodocea sp. (Hutomo, 1985 dalam Dahuri dkk, 2001). Ekosistem padang lamun terdapat di bagian timur, selatan dan barat Pulau Kofiau, sekitar Pulau Ayau, bagian barat Pulau Batanta, sekitar Pulau Gam dan dibagian barat Pulau Waigeo. Sementara rumput laut banyak terdapat di daerah Distrik Misool, Samate dan Waigeo Utara. Komoditas ini telah dibudidayakan oleh masyarakat, khususnya Euchema cottoni.
Jenis crustacea banyak terdapat di wilayah perairan Raja Ampat, baik berupa udang hias maupun udang konsumsi. Jenis udang yang bernilai ekonomi tinggi adalah udang barong (Panulirus sp) yang terdapat di ekosistem terumbu karang. Komoditas lainnya adalah kepiting (Scylla serrata) dan rajungan (Portunnus sp) yang terdapat di daerah hutan mangrove.
Berdasarkan hasil penelitian CII terdapat 600 jenis molusca yang terdapat di perairan Raja Ampat. Beberapa jenis yang bernilai ekonomis, antara lain kerang-kerangan, cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), gurita (Octopus sp), teripang, tiram mutiara (Pinctada sp). Di kawasan ini bahkan terdapat jenis kima raksasa (Tridacna gigas) yang berukuran hingga 1,5 m yang dapat ditemukan dengan mudah. Keberadaan kerang ini menjadi indikator bahwa kondisi terumbu karang di wilayah ini tergolong sehat.
Wilayah gugus pulau kecil di Kabupaten Raja Ampat juga memiliki kekayaan satwa penyu yang sebagian merupakan jenis yang dilindungi, seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Satwa lainnya di wilayah perairan Raja Ampat adalah mamalia laut, yaitu lumba-lumba (Cetacean).

Kondisi Sosial Ekonomi Budaya

Jumlah penduduk di Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2000 sebanyak 27.039 jiwa, sedangkan pada tahun 2005 sebanyak 30.866 jiwa atau mengalami pertumbuhan 14,15% selama rentang waktu 5 tahun. Artinya, tingkat kepadatan penduduk yang masih relatif rendah. Sektor perikanan merupakan salah satu andalan kegiatan perekonomian di Kabupaten Raja Ampat, baik perikanan tangkap maupun budidaya. Sebelum menjadi kabupaten, Raja Ampat memberikan kontribusi kepada Kabupaten Sorong tidak kurang dari Rp 1,5 milyar tiap tahun dari sektor perikanan. Komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Raja Ampat adalah rumput laut dan mutiara.
Secara sosial-budaya, di wilayah Kabupaten Raja Ampat masih terdapat suku-suku asli penduduk yang terbagi dalam 3 suku besar, yaitu Suku Moi, Suku Biak dan Suku Amer. Masyarakat Raja Ampat menganut sistem kekerabatan yang kadang jumlahnya besar karena terdiri dari beberapa klan dan bahkan hampir dari beberapa kampung masih merasa dirinya berasal dari satu garis keturunan. Dalam hubungan kekerabatan ini, masing-masing saling menghormati dan bergaul.
Harta pusaka bagi suku masyarakat di Raja Ampat adalah tanah, yang artinya bahwa melalui tanah orang Raja Ampat dapat berkebun dan hasilnya dapat dimakan dengan hasil penangkapan ikan yang diperoleh dari laut, juga dengan tanah mereka dapat tinggal. Berkaitan dengan sumberdaya laut, terdapat hak-hak dan penentuan batas wilayah ulayat laut pada suku masyarakat di Raja Ampat, antara lain : pembatasan nelayan dari luar untuk menangkap ikan di desa tertentu (di Arborek dan Fam); pembatasan ukuran tangkapan lobster di Desa Sawinggrai; pembatasan ukuran tangkapan lola di Desa Arborek; sistem moratorium (sasi gereja) untuk teripang, lobster dan lola; jenis-jenis tabu yang tidak boleh ditangkap di daerah tertentu (Tropika, 2005).

Mata Pencaharian

Sebagian besar penduduk di Kabupaten Raja Ampat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan (sekitar 80%) dan petani. Disamping itu juga terdapat pedagang, pengusaha kayu, pegawai negeri sipil, guru, tokoh agama dan pencari kerja. Mata pencaharian sebagai nelayan merupakan mata pencaharian pokok yang dianggap memberikan hasil bagi penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan penangkapan ikan ini dilakukan, baik pada siang hari maupun malam hari dan umumnya masih secara tradisional.
Meskipun penduduk di Kabupaten Raja Ampat mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, namun potensi perikanan yang begitu besar masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang sangat sederhana sehingga kalah bersaing dengan kapal nelayan asing yang beroperasi di wilayah tersebut. Pada tahun 2000 tercatat sekitar 2.400 kapal asing yang beroperasi di perairan Raja Ampat dan sekitarnya.

Potensi Perikanan

Komoditas unggulan perikanan tangkap di Kabupaten Raja Ampat, antara lain ikan tuna, cakalang tenggiri, kerapu, napoleon, kakap merah, teripang, udang dan lobster. Daerah penangkapan ikan kerapu dan napoleon terdapat di perairan Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Kepulauan Ayau, Batanta, Kofiau dan Misool; lobster di perairan Waigeo, Misool dan Kofiau; cumi-cumi di perairan Waigeo Selatan dan Misool; teripang dan ikan tenggiri hampir diseluruh perairan Kabupaten Raja Ampat.

Pendekatan Konservasi

Sejak tahun 1990-an, ekosistem terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat menghadapi ancaman kerusakan akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bom dan racun sianida. Namun demikian, secara keseluruhan kondisi terumbu karang di Raja Ampat adalah yang terbaik di Indonesia, bahkan keanekaragaman hayatinya lebih tinggi dibandingkan dengan Negara Palau yang selama ini mendapat perhatian sangat serius dari dunia internasional sebagai tolok ukur studi terumbu karang di dunia. Oleh karena itu, pendekatan konservasi dalam menetapkan Kawasan Konservasi Laut Daerah Raja Ampat adalah menggunakan pendekatan partisipasi, dukungan dan fasilitasi pembangunan insfrastruktur sosial, bimbingan teknis, sosialisasi, percontohan dan pilot project pengembangan pariwisata bahari dan perikanan berkelanjutan.

Pariwisata

Sektor pariwisata memiliki prospek pengembangan tersendiri bagi kegiatan perekonomian Raja Ampat. Keunikan dan keindahan panorama alam ditambah dengan keanekaragaman sumberdaya perikanan dan kelautan yang tinggi, terutama ekosistem terumbu karang merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan luar negeri. Bahkan di daerah tersebut menjadi lokasi penelitian para pakar biota laut dunia.
Jenis potensi pariwisata bahari yang utama di wilayah gugus pulau kecil Raja Ampat adalah wisata panorama alam, seperti pasir putih, gua, beting-beting karang, serta wisata diving. Daerah pengembangan pariwisata adalah di Pulau Kofiau, Misool, Waigeo Selatan dan Barat, serta Kepulauan Ayau. Namun demikian sejak tahun 1995 hingga sekarang baru terdapat 1 lokasi yang dikelola oleh PT Papua Diving, khusus untuk wisata bahari dan wisata alam, yaitu di wilayah Distrik Waigeo Selatan, Waigeo Barat dan Teluk Mayalibit.

Source :

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"