ICBE 2018

Taman Pesisir Jeen Womom, Dulu dan Sekarang

Diawali dari kawasan Cagar Alam Jamursba Medi, Suaka Margasatwa, Inisiatif Taman Nasional Jamursba Medi-Tambrauw Utara, Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun yang ditetapkan oleh Bupati Sorong, hingga akhirnya menjadi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau kecil (KKP3K) dan dikelola sebagai Taman Pesisir Jeen Womom yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 53/KEPMEN-KP/2017 pada tanggal 22 Desember 2017, membuktikan betapa seriusnya upaya konservasi di kawasan tersebut.

Sejak tahun 1981, berbagai survey dan penelitian terhadap tempat peneluran penyu belimbing mulai dilakukan. Tujuan observasi awal yang dilakukan oleh Dr. Rodney Salm, dan Dr. Ronald Petocz, untuk mendapatkan gambaran jumlah penyu yang bertelur dan tingkat ancaman, terutama dari pengambilan telur. Pada  tahun 1985, penelitian dilanjutkan oleh Shatis Bhaskar yang mulai menginisiasi pemasangan transmitter. Selain untuk mengetahui migrasi penyu belimbing, melalui penandaan tersebut, diketahui pula bahwa seekor penyu Belimbing bisa menghasilkan hingga tujuh sarang telur per-musim, dengan interval bertelur satu dan selanjutnya sekitar 9 – 10 hari.

Jeen Womom

Sementara itu, ancaman pengambilan telur penyu kerap terjadi. Telur-telur tersebut diambil kemudian ditukar dengan berbagai kebutuhan pokok rumah tangga seperti beras, gula, garam, sabun, maupun peralatan memasak. Transaksi tukar menukar ini rutin dilakukan seminggu sekali oleh masyarakat dengan orang-orang berperahu dari Sorong, Biak, Manokwari dan Maluku Utara. Kegiatan ini terungkap pada survey koloni penyu yang dilakukan oleh William Betz dan Marry Welch sekitar tahun 1991.

Pada tahun 1993, WWF Proyek Konservasi Irian Jaya yang saat itu dibawah koordinasi Malcolm Stark mulai melakukan kegiatan monitoring dan patroli yang melibatkan masyarakat lokal di kawasan Jamursba Medi (Jeen Yessa). Kegiatan patroli dan pengembangan masyarakat terbukti mampu menekan jumlah pengambilan telur untuk ditukar maupun dijual. Sayangnya, di Pantai Warmon (Jeen Syuab), kebiasaan mengonsumsi telur penyu oleh masyarakat merupakan tantangan tersendiri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Thebu dan Hitipeuw di tahun 2003, sebanyak 42% telur penyu masih dikonsumsi oleh masyarakat. Program monitoring pun dilakukan di pantai ini.

Pada tahun 2003, Peter Dutton, melakukan studi genetika dan stok populasi penyu di pantai Jamursba Medi dan Warmon. Hasilnya menunjukkan bahwa populasi penyu Belimbing yang bertelur di kedua bentang pantai ini sejenis (satu kelompok populasi) dengan penyu-penyu Belimbing yang bertelur di Papua New Guinea dan Kepulauan Solomon.

Penyu Belimbing. Photo Credit : WWF Indonesia/Hadi Ferdinandus

Kemudian pada tahun 2006, WWF-Indonesia bekerjasama dengan NOAA US melakukan penelitian studi migrasi penyu pasca bertelur di Pantai Jamursba Medi , dilakukan pemasangan transmiter di pantai Jamursba medi dan warmon. Hasilnya suatu studi yang dilakukan terhadap sembilan ekor penyu Belimbing pasca-bertelur di pantai peneluran Jamursba Medi menunjukkan bahwa Penyu-penyu tersebut memiliki cakupan pergerakan maha luas, berenang menuju berbagai perairan tropis, di wilayah Philippines, Malaysia, Jepang, hingga menyeberangi equatorial Pasifik ke perairan hangat di Amerika Utara dimana terdapat agregasi ubur-ubur yang sangat tinggi Ini menunjukkan bahwa tujuan migrasi berhubungan dengan tersedianya sumber pakan.

Pada tahun 2007, sebuah kajian penting tentang popuplasi penyu belimbing di Jamursba Medi dan Warmon dilakukan oleh Creusa Hitipeuw, Petter Dutton, S. R Benson, Julianus Thebu dan J. Bakarbessy. Kajian tersebut membandingkan catatan aktivitas bersarang dari tahun 1981-2001 dengan 2001-2004 melalui telemetri satelit yang melacak pergerakan janda betina secara internal selama musim bersarang. Hasil perbandingan tersebut, ditemukan walaupun ada indikasi penurunan jangka panjang, populasi ini belum habis sejauh yang ditemukan di rookeries besar lainnya di Pasifik. Telemetri satelit menunjukkan bahwa petelur sering berada di sekitar Kepulauan Raja Ampat dan perairan pantai di sebelah barat Jamursba Medi, dan mungkin juga bersarang di luar area yang dipantau. Untuk itu direkomendasikan untuk membangun kawasan lindung laut untuk menjamin perlindungan populasi ini di habitat laut dekat yang sangat penting ini dan pelaksanaan tindakan konservasi dalam kemitraan dengan masyarakat lokal di pantai bersarang sebelum populasi ini habis.

 

Tukik di Jeen Womom. Photo Credit : WWF Indonesia/Hadi Ferdinandus

10 tahun kemudian, pada akhir tahun 2017, kawasan Jamursba Medi (Jeen Yessa)-Warmon (Jeen Syuab) yang berstatus Suaka Margasatwa dengan luas 278,25 Ha ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau kecil (KKP3K) dengan luas 32.250,86 Ha. Peningkatan luas kawasan hingga lebih dari 100 kali lipat ini bukan saja memberikan tempat bagi pelestarian habitat penyu sekaligus menjadi tantangan bagi WWF-Indonesia bersama mitra untuk lebih giat lagi melakukan upaya konservasi sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat secara aktif terlibat dalam pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom

Author: Hadi Ferdinandus/WWF Indonesia

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"