ICBE 2018

Perubahan Iklim: Apa hubungannya dengan Tanah Papua?

Kalau ada waktu iseng (dan mau dibuat bermanfaat) mungkin tidak ada salahnya browsing mengenai isu-isu penting menurut pendapat masyarakat dunia. Saya melakukan hal ini beberapa bulan lalu dan mendapat pendapat masyarakat dunia (global community) tentang 10 isu penting “zaman now”. Ternyata 45% masyarakat global berpendapat bahwa isu perubahan iklim dan kerusakan hutan. Jauh dari isu kemiskin (38%) maupun isu perbaikan ekonomi dan lapangan pekerjaan (14%).

Ini hasil atau pendapat agak berbeda dengan kenyataan Indonesia dan khususnya di Tanah Papua yang menganggap masalah kemiskinan adalah isu utama (paling tidak kita bisa melihat dari hasil survey beberapa koran atau lembaga survai nasional sehubungan dengan pilkada dan pilpres). Khusus untuk Provinsi Papua Barat dan Papua, isu kemiskinan ini seolah-olah menjadi stigma yang melekat erat, karena selalu masuk dalam “the poorest provinces in Indonesia”. Buat yang mengerti konsep dan perhitungan “garis kemiskinan”, pasti akan skeptis mengenai “prestasi” dua provinsi Papua ini, karena garis kemiskinan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Tapi ini bukan maksud dari tulisan ini.

Lalu apa hubungannya Perubahan Iklim dan Tanah Papua, yang masih hijau dan hampir seluruhnya tertutup hutan tropis ini? Apakah pendapat masyarakat dunia keliru atau hanya berlaku buat dunia sana, kecuali Tanah Papua? Ternyata tidak! Mungkin karena perubahan alam dan iklim itu sangat kecil sehingga masyarakat dan pemimpin di Tanah Papua, tidak begitu memperhatikan apa yang sedang terjadi. Apalagi para pemimpin sibuk membuat program untuk menghilangkan status “provinsi termiskin” di Indonesia. Perubahan iklim sebenarnya, sudah terasa di Tanah Papua. Kalau kita ingat 20 tahun lalu, kata “banjir” bukan kata yang umum di Tanah Papua (banjir itu persoalan masyarakat di Jawa dan Sumatera). Tapi zaman now, ada hujan sedikit su pasti ada banjir dan bahkan menimbulkan bencana bagi sebagaian masyarakat di Tanah Papua.

Buat yang tetap tidak percaya bahwa “perubahan iklim” tidak ada urusan dengan Tanah Papua, atau sudah tau tapi tidak mau tau, mungkin data dan model dari Nasa (iya Nasa) bisa menjadi bahan pertimbangan. Nasa adalah badan penelitian penerbangan dan antariksa Amerika Serikat.

Model Kenaikan Permukaan Air Laut

Menggunakan data dari dari berbagai stasiun penelitian di dunia dan juga data tutupan es di kutub Utara, Nasa membuat model dan menyimpulkan bahwa jika tidak ada perubahan (penggurangan) drastis pemanfaatan bahan bakar fosil (BBM, gas, dan sebagai) dan penurunan kerusakan hutan tropis, maka akan ada kenaikan suhu bumi. Jika kenaikan suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius, maka akan ada kenaikan permukaan air laut sekitar 2-4 meter.

Model ini menunjukkan jika hal ini terjadi, maka sebagian besar dataran rendah di bagian selatan (Merauke, Asmat) Provinsi Papua, dan daerah sekitar Leher Burung (Sorong dan Sorong Selatan) di Provinsi Papua (Gambar 1) akan terutup air. Kenaikan 2 m permukaan air laut Sorong akan berdampak besar bagi pemukinan pada di sana. Mungkin bandara DEO juga akan terendam pada saat hujan dan air pasang (Gambar 2).

Gambar 1: Kenaikan permukaan air laut (warna merah) akibat pemanan global. Jika terjadi kenaikan suhu sampai 2 derajat Celcius, maka sebagian besar daerah di Papua akan mengalami kenaikan permukaan air laut sampat 2-4 m (Nasa).
Gambar 2: Dampak paling terasa pada penduduk yang tinggal di sekitar pantai (Sorong, Papua Barat)

Kehilangan Salju Abadi

Tanah Papua sangat terkenal dengan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Salah satunya ada ekosistem alpin dengan salju abadinya di tropik? Hanya ada 3 tempat di daerah tropis yang memiliki salju: Pengunungan Andes, Pegenungan Kilimanjaro, dan Pengunungan Lorentz, Timika.

Nasa juga menerbitkan beberapa foto bentangan alam secara berseri (time series). Salah satu foto itu berhasil mendokumentasi perubahan luas tutupan salju abadi di Pengunungan Lorentz, Timika, Provinsi Papua. Penelitian lain yang para ahli Indonesia juga mencatat ada penurunan ketebalan salju. Gambar 3a merupakan foto salju abadi yang diambil Nasa pada 3 November 1988 dan Gambar 3b merupakan foto salju abadi yang diambil 5 Desember 2017 (atau sekitar 20 tahun kemudian).

Gambar 3a: Foto luas salju abadi di Pengunungan Lorentz Timika (hijau muda). Foto ini diambil oleh Nasa pada tanggal 5 November 1988 (Nasa Image).
Gambar 3b: Foto luas salju abadi di Pengunungan Lorentz Timika (hijau muda). Foto ini diambil oleh Nasa pada tanggal 5 Desember 2017 (Nasa Image).

Kemungkinan Dampak Pemanasan Global dan Apa yang bisa kita lakukan:

Dampak utama dari pemanasan global telah disampaikan: kenaikan permukaan laut. Selain, akan lebih sering terjadi banjir, badai dan kekeringan. Walaupun sebagian besar penduduk Papua bukan petani sawah, tetapi hampir 80% penduduk di Papua tergantung pada beras sebagai pangan utama, dan sebagian besar beras yang dibutuhkan diimpor dari luar Papua.  Dapat dibayangkan kalau terjadi kegagalan pertanian, maka akan berdampak besar pada kehidupan masyarakat, terutama masyarakat perkotaan.

Beruntunglah Tanah Papua masih memiliki hutan yang luas. Tetap menjaga hutan, akan memberikan dua manfaat langsung: kemampuan untuk mengurangi carbon dioksida(C02) dan menahan unsur karbon yang berada dalam biomasa hutan. Selain hutan, Papua yang memiliki terumbuh karang dan hutan bakau berperan besar dalam menyerap dan menyimpan gas rumah kaca.

Mendorong pengurangan bahan bakar fosil. Walaupun ini merupakan hal yang sulit, tetapi bisa dan dapat dilakukan (karena murah dan mengurangi polusi). Misalnya, pemerintah dapat mendorong pengembangan sistim transportasi umum, baik dalam kota maupun antar kabupaten. Memanfaatkan sumber panas bumi atau sungai dalam pengembangan listrik. Banyak penelitian menyimpulkan pemanfaatan sumber panas mahatari dapat mengurangi kebutuhan pemakaian bahan bakar disel (solar) untuk generator listrik sampai 80%.

ICBE 2018 memperkenalkan konsep dan inisiatif Provinsi Konservasi sebagai solusi cerdas pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua secara global. Konsep yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatan jasa lingkungan, ekonomi kreatif dan peningkatan partisipasi masyarakat. Pada tanggal 19 Oktober 2015, Provinsi Papua Barat telah mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Konservasi, yang bertujuan untuk menjamin pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumberdaya alam guna menunjang kehidupan masyarakat, yang tidak lain adalah pembangunan berkelanjutan.

Konsep Provinsi Konservasi merupakan yang pertama dilakukan di dunia. Konsep yang menyeimbangkan pengelolaan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan secara bersama-sama, serta kebijakan ini menetapkan kerangka kerja pemerintah yang mendukung pembangunan ekonomi dan social mengarah pada kesejahteraan masyarakat adat. Di saat yang sama juga menghindari kerusakan lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati
ICBE 2018 ini akan menjadi paling penting dan bersejarah. Tidak hanya berbicara secara ilmiah dan kebijakan; konfrensi akan membahas pemanfaatan jasa lingkungan dan ekonomi kreatif dengan melibatkan masyarakat asli dalam pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam dengan mengusung konsep Provinsi Konservasi. Hal tersebut ditambah dengan dimasukannya unsur strategi pendanaan berkelanjutan; ICBE akan menjadi wadah bagi ilmuan, mahasiswa, pembuat kebijakan, pendidik, dan professional lingkungan lainnya dari seluruh dunia.

Author: Nita Johana

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"