ICBE 2018

Pengelolaan Laut Secara Kearifan Lokal untuk Masa Depan Masyarakat di Kawasan Teluk Cenderawasih

Masyarakat adat di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat). Memiliki kearifan lokal dalam melindungi alam dan keanekaragaman hayati mereka yang disebut sasi. Sasi merupakan tradisi bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir pantai Papua  untuk membiarkan areal tertentu agar tidak boleh dimasuki dan diambil hasilnya, hingga waktu yang telah ditentukan barulah dibuka dan hasilnya diambil untuk dimanfaatkan bersama atau untuk tujuan komersial.

Di Kampung Sombokoro, Distrik Windesi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, sasi dikenal dengan Sawora yang berarti sumpah di tempat. Sejak dua tahun lalu, masyarakat kampung Sumbokoro telah sepakat agar wilayah tersebut dibuatkan Sawora.

Ini untuk melindungi  areal seluas 345,203 ha, yang terdiri dari hamparan karang, padang lamun dan habitat mangrove berserta potensi sumber perikanannya. 

Pada akhir April 2018 lalu, Sawora secara resmi dibuka kembali. Dalam acara pembukaan sawora, Ismael Minuari menyampaikan bahwa “sasi” merupakan warisan leluhur mereka yang harus terus dipertahankan. “Orang tua kami dulu kalau mencari (bekerja) mereka tidak ambil ikan, udang, kepiting atau kerang sampai berlebihan seperti sekarang ini. Mereka ambil secukupnya”. “Tetapi dengan perkembangan jaman saat ini banyak diantara masyarakat kita yang serakah, mau ambil kami pung hasil sesukanya”. Lebih jauh Ismael Minuari menjelaskan, bahwa masyarakat tidak berpikir jika hasil laut diambil terus akan habis, kalaupun ada yang tersisa seperti ikan, udang, kepiting, teripang dan lainnya ukurannya pun kecil-kecil yang bisa dipanen. Untuk itu, ia dan masyarakat kampung Sombokoro sepakat agar dibuat sawora.

Anak Kampung Sombokoro sedang Ikut Memanen

Acara pembukaan kembali kawasan sawora diawali doa dari Bapak Gembala Markus Pararawai Gereja Pantekosta di Indonesia Kampung Sombokoro yang mengangkat sumpah Sawora di wilayah perairan kampung Sombokoro. Ini sekaligus menandai awal panen hasil laut di kampung tersebut.

Aturan panen telah disepakati oleh kelompok Sewiri, dimana alat tangkap yang diperbolehkan adalah alat tangkap yang ramah lingkungan tidak merusak  dan menghabiskan sumber daya alam (sistim seleksi), dengan cara memancing dan menyelam tradisional dengan menggunakan alat panah ikan, sementara untuk lobster mereka hanya menggunakan sarung tangan.

Pada saat panen, hampir semua lokasi rataan terumbu karang terdapat lobster dan teripang serta molusca yang dalam jumlah cukup banyak dimana dalam 1 kali melaut jangka waktu 5 jam, 1 kelompok mampu menghasilkan 1 coolbox ikan  (50 Kg) dan 20 ekor lobster. “kami bisa mendapatkan teripang 100 ekor/ hari dilokasi tertentu dan banyak ikan serta lobster, hasil yang melimpah ini tidak dapat kami capai jika tidak dilakukan Sawora tambah Yohanes Munuari salah satu nelayan yang menuai hasil panen.

            Jenis hasil laut yang di panen oleh masyarakat adalah beberapa jenis teripang, lobster dan ikan, antara lain teripang Nenas (Thelenota ananas), Kongkong pecek, teripang malam, teripang benang bintik, teripang susu (Holothuria fuscocinerea), teripang pasir dll, sementara untuk lobster hanya 2 jenis yang di panen yakni lobster bambu (Panulirus versicolor) dan lobster merah (Panulirus longipes). sedangkan jenis ikan yang dipanen adalah beberapa jenis Kerapu (Plectopormus spp), Kakap (Lutjanus spp), sikuda (Lethrinus spp), baronang (Siganus spp), kakatua (Scaridae), Bubara (Carangidae), kulit pasir/ikan piso (Acanthuridae) dan Baracuda (Scombridae).

Nelayan Menunjukkan Hasil Panen pada Dirjen KSDAE

Jumlah keuntungan panen dalam dua minggu saja mencapai  sekitar Rp. 50.000.000,-  yakni teripang 70, 2 Kg kering dengan harga jual  antara Rp 200.000 – 700.000,-/Kg, udang lobster 92 ekor dengan harga jual Rp 50.000,- – 100.000,-/ ekor , berbagai jenis ikan sekitar 277,5 Kg dengan harga jual Rp 25.000 – 35.000/Kg, ikan asin 55 Kg dengan harga jual Rp 50.000,-/Kg dan Ikan asap sekitar 60 ikat dengan harga jual Rp. 50.000/ 3 ikatnya.

Sawora akan dibuka selama 3 bulan karena metode panen yang bertahap dan tradisional yang mana selanjutnya akan ditutup kembali. Harapannya melalui Sawora sumber daya ikan akan melimpah dan mampu menjamin pendapatan masyarakat setempat.

Sawora di Sombokoro menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di sekitar kawasan Teluk cenderawasih. Adalah Kampung Menarbu, yang didukung oleh pemerintah distrik Roon mengalokasikan wilayah laut kampung Waar dan Menarbu untuk dikelola dengan sistem sasi. Di Menarbu sasi dikenal dengan nama Kadup.

Para Remaja Somobokoro Panen Ikan

Kampung Menarbu dan dusun Waar merupakan pemukiman yang berada dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Masyarakat kampung Menarbu telah melaksanakan prosesi adat dan gereja dalam menetapkan kurang lebih 1.194 Ha wilayah pesisir dan lautnya untuk di tutup selama 2 tahun dari pengambilan beberapa jenis hasil laut yakni berbagai jenis Lobster (Panulirus sp), Teripang (Holothuroidea) , Lola (Trochus niloticus, dan Pea pea (Pinctada sp) atau disebut sebagai area  Kadup jenis, dan juga 134 Ha wilayah pesisir lautnya di tutup selama 2 tahun untuk semua aktivitas penangkapan hasil laut atau disebut Kadup tempat.

Adapun sanksi bagi yang melanggar aturan tersebut diatas adalah sanksi yang tidak tertulis yakni setiap pelanggar aturan akan sakit hingga kematian akan menimpanya, dan jika pelanggar mengaku kesalahannya didepan pendeta barulah di doakan oleh pemuka agama untuk menghindari kematian dari penyakit yang di timpanya. Aturan Kadup ini sangat ditakuti oleh semua masyarakat kampung tidak hanya di wilayah kampung Menarbu namun hampir semua masyarakat yang ada diwilayah pesisir Papua. Pengawasan wilayah kadup ini dilakukan secara langsung oleh semua masyarakat kampung Menarbu, hal inilah yang menyebabkan pengelolaan laut akan sangat optimal jika dilakukan secara arif oleh pihak masyarakat lokal.

 

Penulis: Ade Sangadji

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"