ICBE 2018

HUTAN MANGROVE TELUK BINTUNI SEBAGAI PENYANGGA KOMODITAS PERIKANAN EKSPOR

Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas wilayah sebesar 18.637,00 km2atau 19,2% dari total luas Provinsi Papua Barat. Kabupaten ini memiliki 5 sungai yang dikelilingi hutan mangrove di sekitar muaranya. Hal ini menjadikan ekosistem pesisir di Teluk Bintuni bercirikan ekosistem mangrove. Luas hutan mangrove di Teluk Bintuni teridentifikasi sekitar ± 260 ribu hektar dan mencakup 10% dari total luas hutan mangrove Indonesia (Wibowo dan Suyatno, 1998). Diketahui pula bahwa selain memiliki manfaat langsung seperti penahan abrasi dan peredam gelombang laut (ombak), hutan mangrove juga memiliki nilai penting bagi keberadaan biota-biota yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hutan mangrove dijadikan sebagai daerah pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), area mencari makan (feeding ground) oleh biota perairan terutama komoditas perikanan pelagis kecil, demersal dan berbagai kenis crustaceae (kepiting bakau dan udang).

Photo credit : Irwanto

Padatnya hutan mangrove di sepanjang pesisir membuat Kabupaten Teluk Bintuni terkenal sebagai penghasil perikanan untuk komoditas ekspor. Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2016 mencapai 2.764 ton (BPS Papua Barat, 2017). Potensi sumber daya laut tersebut telah dimanfaatkan sejak tahun 1970-an. Komoditas perikanan yang menjadi primadona dan berkembang hingga sekarang adalah udang. Aktivitas pemanfaatan potensi perikanan udang sejak tahun 1990 oleh perusahaan PT. Bintuni Mina Raya telah banyak menyerap lapangan kerja. Hingga saat ini aktivitas penangkapan udang masih terus dilakukan dengan menggunakan armada <10 GT. Diketahui sekitar 1.469 rumah tangga perikanan di Kabupaten Teluk Bintuni memproduksi 405,8 ton udang pada tahun 2017. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya (BPS Kab. Teluk Bintuni, 2017). Selain udang, komoditas kepiting bakau (mud crab), ikan demersal dan pelagis kecil termasuk komoditas dominan yang dimanfaatkan nelayan Kabupaten Teluk Bintuni. Dari total produksi perikanan tangkap, termasuk sekitar 46% udang, 18% kepiting bakau dan 15% demersal (kakap). Produksi perikanan tangkap di wilayah pesisir Teluk Bintuni terus meningkat sebesar 36,76% pada periode 2012-2016. Hal ini seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dan permintaan pasar akan udang, kepiting, dan ikan.

Ditinjau dari kondisi sosial masyarakatnya, penduduk Kabupaten teluk Bintuni terbagi dalam 7 kelompok suku yang tersebar di daerah pegunungan dan pesisir. Lima di antara suku tersebut tersebar di wilayah pesisir yaitu Suku Kuri, Wamesa, Sebyar, Irarutu dan Sumuri. Masyarakat pesisir tersebut masih sangat bergantung pada potensi sumber daya perikanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Diketahui pula bahwa wilayah perairan pesisir laut Kabupaten Teluk Bintuni telah diperuntukkan untuk kawasan industri, blok migas, konservasi dan hutan lindung. Tekanan terhadap wilayah perairannya semakin banyak dan tentunya berdampak pada aktivitas perikanan tangkap. Disamping itu, kebijakan pengendalian penangkapan dan pengaturan pemanfaatan wilayah pesisir dan laut belum diformulasikan.  Isu dan permasalahan mengenai hilangnya daerah penangkapan (fishing ground), jumlah tangkapan semakin menurun serta wilayah tangkap yang semakin jauh menjadi kendala yang harus dihadapi masyarakat terutama nelayan tradisional. Padahal komoditas perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715 adalah komoditas ekspor yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

 

Photo credit : Irwanto

USAID Indonesia melalui Proyek Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) mendukung upaya Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pengelolaan perikanan dan kelautan serta upaya konservasi terutama di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715 salah satunya adalah Provinsi Papua Barat. Untuk mendukung upaya tersebut, WWF-Indonesia bergabung dalam konsorsium mitra Proyek SEA USAID Indonesia yang berjalan selama 5 tahun (2016-2021). Proyek SEA ini diharapkan berperan dalam upaya mendorong proses pemanfaatan potensi sumber daya laut dan perikanan dengan memperhatikan kaidah kelestarian keanekaragaman hayati dan keberlanjutan potensi perikanan. Oleh karena itu, Proyek SEA USAID akan mengakselarasi inisiasi Kawasan Konservasi baru di wilayah WPP-715 sebagai usaha menyeimbangkan kedua unsur tersebut di Kabupaten Teluk Bintuni.

Penulis: Irwanto
Alih Bahasa: Ade Sangadji

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"