ICBE 2018

Hiu Paus Sebagai Potensi Ekowisata di Kaimana

Hiu paus (Rhincodon typus) – atau iri ombo bagi masyarakat di kampung-kampung sekitar Selat Bitcari, Kaimana – merupakan ikan terbesar di dunia, yang dipercaya oleh para peneliti dapat tumbuh mencapai panjang 18 meter dengan berat lebih dari 20 ton. Hiu paus merupakan salah satu jenis hewan yang terancam punah, dimana hiu ini termasuk dalam kategori terancam (endangered) dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Red List). Pada tahun 2013, Pemerintah Indonesia telah memberikan status perlindungan penuh kepada hiu ini melalui KEPMEN-KP No.13 tahun 2013, mempertimbangkan potensi ekonomi besar yang dapat diberikan oleh hiu ini apabila dijaga keberlangsungan hidup nya sebagai aset pariwisata bahari, dibandingkan apabila dibunuh dan dijual seluruh bagian tubuhnya.

Pariwisata berbasis hiu paus telah banyak dikembangkan di seluruh dunia dan telah memberikan manfaat langsung kepada perekonomian masyarakat lokal. Contohnya di sebuah kota kecil di Filipina bernama Donsol, beberapa nelayan yang dulunya menangkap hiu untuk diambil siripnya, sekarang menjaga hiu paus untuk pariwisata. Kegiatan ini telah secara cepat meningkatkan kehidupan perekonomian di kota tersebut, dimana dapat dilihat perkembangannya dari jumlah wisatawan yang datang, pada tahun 1999 sebesar 200 orang dan pada tahun 2009 tercatat hingga 20.000 wisatawan. Dampak secara ekonomi dialami juga di Maldives, dimana wisatawan rela mengeluarkan 10 juta US Dollar atau sekitar 100 miliar rupiah (Jan, 2018) untuk dapat berenang dengan hiu paus. Negara lain seperti Belize, Seychelles, dan Australia juga menjaga industri pariwisata hiu paus tersebut, yang seringkali hanya berlangsung selama 6 sampai 12 minggu, ketika hiu paus berada di perairan mereka.

Peta yang menunjukkan kemunculan hiu paus disekitar wilayah perairan Triton, Kaimana. Polygon berwarna abu-abu menunjukkan wilayah yang dianggap cukup berpotensi untuk mengembangkan ekowisata berbasis hiu paus. Titik dengan berbagai warna menunjukkan kemunculan beberapa individu hiu paus di berbagai waktu.

Sejak ditemukan pada sekitar tahun 2012, hiu paus di Kaimana telah mulai menarik wisatawan untuk datang dan berenang. Hiu paus di kaimana pertama kali dijumpai berenang-renang di sekitar bagan – sebuah platform perikanan tradisional dari Sulawesi Selatan – untuk memakan ikan-ikan puri (teri) yang ditangkap oleh nelayan. Interaksi hiu paus dengan bagan ini, juga dijumpai di tempat-tempat lain di Indonesia, dan telah menjadi salah satu platform pariwisata hiu paus. Walaupun demikian, masih banyak informasi yang belum diketahui para peneliti tentang biologi, perilaku, dan pergerakan hiu paus. Hiu paus dipercaya sebagai spesies yang bermigrasi jauh, dan informasi tentang pergerakannya akan menjadi sangat penting untuk mendukung pengembangan pariwisata berbasis hiu paus.

Sejak bulan Desember 2016 hingga sekarang, 6 individu hiu paus telah dipasangi penanda satelit finmount di Kaimana. Beberapa individu hiu paus yang telah dipasangi penanda satelit ini menunjukkan bahwa mereka melakukan pergerakan yang cukup jauh keluar dari perairan Kaimana. Beberapa diantaranya keluar hingga Laut Arafura, Laut Seram, dan Laut Banda, namun menariknya beberapa individu terlihat kembali ke perairan sekitar Triton, Kaimana. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun bergerak keluar, perairan Kaimana masih merupakan habitat penting bagi hiu paus ini.

Ilustrasi kemunculan hiu paus di sekitar wilayah perairan Triton, Kaimana selama satu tahun kebelakang. Diamati bahwa pada bulan Februari hingga awal Mei terdapat 3 individu hiu paus di wilayah perairan yang dipertimbangkan berpotensi untuk dikembangkan menjadi ekowisata berbasis hiu paus.

Informasi pergerakkan hiu paus ini sangat bermanfaat bagi Pemerintah Daerah Kaimana. Potensi hiu paus sebagai objek ekowisata perlu dipertimbangkan juga dalam menentukkan arah pembangunan Kabupaten Kaimana, mengingat faktanya bahwa pariwisata tidak mungkin berdiri sendiri. Tentunya diperlukkan kesiapan aspek lain seperti infrastruktur, tidak hanya secara fisik namun juga berupa sistem dan partisipasi dari berbagai elemen. Salah satunya bagaimana masyarakat Kaimana dapat menjadi ”host” utama dari kegiatan ekowisata berbasis hiu paus ini, mengkaji kesiapannya, dan memastikan masyarakat dapat mengoptimalkan kesempatan ini untuk perekonomian mereka. Pergerakan hiu paus ini juga menyoroti pentingnya menjaga perairan Kaimana sebagai habitat penting berbagai individu Hiu Paus tetap lestari, memastikan aset pariwisata ini tetap nyaman berenang di perairan Kaimana.

Penulis: Abraham Sianipar/Conservation International Indonesia

"Provinces of Conservation: Smart Solution for Sustainable Development in Papua"